Minggu, 05 Mei 2013

analisa ekonomi brucellosis




PERHITUNGAN EKONOMI AKIBAT BRUCELLOSIS PADA SAPI DI DAERAH RESIKO TINGGI KABUPATEN KLATEN

drh. Ely Susanti, M.Sc.
PENDAHULUAN
Brucellosis adalah salah satu dari 12 jenis penyakit hewan menular strategis (Perdirjen No. 59 Th. 2007). Brucellosis merupakan salah satu penyakit zoonosis yang penting di dunia. Hampir semua hewan domestik dapat terinfeksi (kecuali kucing). Menyebabkan penurunan produksi susu, abortus, anak lahir lemah, penurunan berat badan, infertilitas dan kepincangan. Brucellosis juga merupakan faktor penghambat utama dalam perdagangan tenak, hal itu menyebabkan brucellosis juga sebagai salah satu penyakit dengan dampak ekonomi cukup besar (Rompis, 2002 dan Bernues at al. 1996)
Pada sapi brucellosis merupakan penyakit penting terutama untuk sapi betina. Sapi jantan dapat juga terinfeksi tetapi tidak secara langsung menyebarkan penyakit. Brucellosis pada sapi disebabkan oleh bakteri Brucella abortus  yang menyebabkan  abortus pada  trimester terakhir & infertilitas. Dalam daftar klasifikasi penyakit OIE brucellosis termasuk dalam daftar penyakit B. Bakteri ini merupakan bakteri intraseluler  yang memiliki daya tahan tinggi, dapat disembuhkan dengan antibiotik tetapi secara ekonomi terlalu tinggi biayanya sehingga tidak dapat diaplikasikan untuk pertenakan. Brucellosis merupakan penyakit endemis di Indonesia  hampir di seluruh provinsi di Indonesia (Kecuali Bali & Lombok) yang merupakan  biotype 1( Richey and Harrel, 1997 dan Putro, 2009).
Gejala klinis pada sapi betina adalah terjadinya abortus pada trimester terakhir baik secara individual atau kelompok besar  berkisar 30-80%, Stillbirth (lahir mati), retensi plasenta dan metritis (radang uterus) sehingga menyebabkan infertilitas bahkan pada kasus tertentu menyebabkan sterilitas permanen. Pada sapi jantan dapat menyebabkan terjadinya orchitis, epididymitis, seminal vesiculitis, arthritis atau hygroma pada sendi kaki ( pincang) (Putro, 2009 dan Rompis, 2002) . Pada manusia pertama kali ditemukan di Pulau MALTA pada seorang tentara oleh Dr. David Bruce tahun 1887, sehingga gejala pada manusia dikenal sebagai demam malta atau demam undulan (undulant fever, fluctuating fever, irregular fever) menggigil, depresi, kelemahan umum, pusing kepala, nyeri sendi di sekujur tubuh.
Prevalensi di Indonesia sangat bervariasi karena kondisi geografis dan budaya di Indonesia yang sangat bervariasi.  Prevalensi reaktor bervariasi hal ini kemungkinan disebabkan oleh system surveilans, pencegahan dan pemberantasan dimasing-masing daerah yang belum sesuai dengan kaidah epidemiologi. Sebagai salah satu contoh adalah di Kabupaten Klaten, dalam kurun waktu hampir 10 tahun terakhir hasil surveilans laboratorium tipe B Provinsi Jawa Tengah belum pernah mendapatkan hasil RBT positif konfirmasi CFT positif. Pada tahun 2010 hasil surveilans Laboratorium Tipe B Provinsi Jawa Tengah menunjukkan ada 6 sampel RBT positif kemudian dilanjutkan uji CFT di BBV Wates menunjukkan 5 sampel Positif brucellosis. Sebagai daerah tertular baru maka perlu serangkaian kegiatan yang bertujuan mencegah penyebaran penyakit, mengendalikan penularan kedaerah lain dan pemberantasan (Rompis, 2002 dan Thrusfield, 2007).

KERUGIAN EKONOMI AKIBAT BRUCELLOSIS PADA SAPI
            Kerugian ekonomi akibat brucellosis sangat besar, terutama didaerah endemis. Kerugian ini ada yang berdampak langsung pada sistem produksi peternakan serta pengeluaran ekstra dan dampak tidak langsung. Dalam penghitungan kerugian ekonomi digunakan Parameter epidemiologi, Parameter ekonomi, hasil study dan penelusuran pustaka, data survey Laboratorium dan kondisi penanganan saat ini.
Dampak Langsung
            Dampak langsung pada sistem produksi peternakan adalah penurunan produksi susu pada sapi perah, penurunan berat badan pada sapi potong, adanya perinatal mortality, abortus, infertilitas dan penurunan harga sapi, selain itu ada pengeluaran ekstra yang disebabkan karena peternak terpaksa tukar tambah ternak akibat abortus atau terjadi infertilitas. Penurunan produksi susu dapat dibedakan menjadi 3 yaitu; akibat langsung kehilangan produksi susu, kehilangan susu akibat meningkatnya interval beranak dan kehilangan susu akibat meningkatnya kejadian abortus. Penurunan berat badan juga dibedakan menjadi 3 penyebab yaitu; penurunan berat badan sebagai akibat langsung, kehilangan berat badan sebagai akibat meningkatnya periode interval beranak dan kehilangan berat badan akibat meningkatnya kejadian abortus ( Singh and Prasad, 2008). Menurut Bernues at al. 1996  angka abortus pada brucellosis berdasarkan berbagai studi adalah antara 10%- 50%, tetapi biasanya diambil nilai yang paling sering muncul yaitu 15%. Infertilitas berakibat keterlambatan kebuntingan berikutnya, di peternakan rakyat Indonesia dapat berkisar antara 3-5 bulan, sehingga dapat diambil rata-rata 4 bulan. Brucellosis menyebabkan perinatal mortality, beberapa literatur menyebutkan kisaran angka 5% – 20% dan dapat diambil nilai yang paling sering muncul adalah 10%. Perlu diperhitungkan juga opportunity cost merupakan biaya kenaikan jumlah pakan karena berat badan yang menurun, hilangnya ternak muda, perawatan dan pengobatan dan lain-lain yang diasumsikan 20% dari biaya pemeliharaan sapi. Pengeluaran ekstra yang harus dikeluarkan adalah biaya program pencegahan, pengendalian dan pemberantasan, diantaranya adalah penggantian biaya untuk tukar tambah ternak, disposal dan desinfeksi, sosialisasi kepada masyarakat, surveilans dan vaksinasi. Selain hal-hal tersebut karena brucellosis merupakan penyakit zoonosis maka akan ada kergian sebagai dampak penurunan produktivitas kerja akibat sakit yang diderita pekerja atau peternak.
Dampak Tidak Langsung
            Kerugian ekonomi sebagai bentuk pengaruh tidak langsung terhadap ekonomi daerah diantaranya adalah; penurunan peluang penjualan sapi keluar daerah  akibat seleksi terhadap daerah asal sapi, penurunan pendapatan daerah (PAD) akibat menurunnya penjualan sapi keluar daerah dan penurunan image daerah tentang kualitas sapi. Penurunan image  daerah tersebut akan membutuhkan waktu yang lama untuk memperbaikinya. Untuk memperbaiki semua dampak tidak langsung tersebut maka perlu program pencegahan, pengendalian dan pemberantasan yang terpadu dan terukur sesuai dengan kaidah-kaidah epidemiologi.

DAERAH RESIKO TINGGI TERHADAP BRUCELLOSIS DI KABUPATEN KLATEN
Potensi Wilayah
            Kabupaten Klaten merupakan daerah yang memiliki potensi pertanian dan peternakan yang cukup tinggi. Kabupaten Klaten terdiri atas 26 kecamatan, dimana masing-masing kecamatan memiliki potensi yang berbeda-beda. Ada kuarng lebih 8 kecamatan yang memiliki populasi sapi diatas 3000 ekor, 5 kecamatan wilayah utara dan 3 kecamatan diwilayah selatan. Kecamatan-kecamatan yang memiliki resiko tinggi tertular brucellosis adalah wilayah utara yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Boyolali. Dianggap beresiko tinggi karena memiliki mobilitas keluar masuk ke pasar hewan Boyolali yang cukup tinggi, sementara kita ketahui Boyolali merupakan daerah endemis Brucellosis dan pasar hewan Boyolali termasuk salah satu pasar hewan terbesar di Jawa Tengah sehingga kemungkinan mendapatkan ternak-ternak bermasalah dari berbagai daerah cukup besar. 
            Kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Boyolali yang dimaksud adalah perbatasan bagian utara yang merupakan daerah sentra sapi perah.
 
4 kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Boyolali adalah Kecamatan Jatinom, Tulung, Karangnongko dan Kemalang. Dari ke 4 kecamatan tersebut 2 diantaranya yaitu Jatinom dan Tulung merupakan wilayah dengan populasi sapi perah terbesar di kabupaten Klaten dan memiliki akses dengan Kabupaten Boyolali yang paling mudah. Sedangkan Kecamatan Karangnongko dan Kemalang sebagian kecil ke pasar hewan Boyolali dan sebagian besar ke pasar hewan Prambanan. Dengan demikian sebagai prioritas utama dalam pencegahan, pengendalian dan pemberantasan Brucellosis adalah kecamatan Jatinom dan Tulung.
            Jenis ternak sapi yang ada di ke 4 kecamatan tersebut adalah sapi potong (Peranakan Ongole, Simental, limousin) dan sapi perah (PFH). Sapi jenis PFH sebagaian besar di wilayah kecamatan Jatinom dan Tulung. Populasi ternak sapi yang berpotensi sebagai reaktor brucellosis pada ke 4 kecamatan tersebut adalah:
Sebagai prioritas utama sasaran program kegiatan pencegahan, pengendalian dan pemberantasan Brucellosis adalah Kecamatan Jatinom dan Tulung, dengan populasi target adalah:

Strategi Pemberantasan
            Pada umumnya Brucella memiliki target pada organ reproduksi jantan dan betina pada usia dewasa kelamin. Hewan yang terinfeksi berfungsi sebagai reservoir dan biasanya terus berlangsung tak terbatas. Bakteri ini bersumber pada hewan yang terinfeksi, dapat bertahan pada lingkungan yang lembab untuk beberapa bulan lamanya (Quinn et al.,2002). Penularan biasanya terjadi melalui membrana mukosa saluran pencernaan, veneral contact,  konjungtiva, penetrasi pada kulit yang luka, inhalasi atau transplasenta. Sebagian besar kasus yang berada di Indonesia penularannya melalui pencernaan. Abortus terjadi setelah usia kebuntingan 5 bulan dan kebuntingan selanjutnya sapi menjadi bersifat karir. Pada anak sapi infeksinya terbatas, berbeda dengan sapi dewasa dimana infeksinya dapat persisten selama bertahun-tahun pada glandula mamari dan nodus limpatikus (Quinn et al., 2007, Salmani et al. Journal, 2009 dan Talaro et al., 2002).
Mengingat kondisi di Indonesia yang sangat bervariasi, maka keberhasilan program pemberantasan sangat tergantung pada pendekatan yang digunakan. Melibatkan komponen masyarakat dalam program pemberantasan sangat penting. Peran serta dan kesadaran masyarakat sangat membantu keberhasilan program, apalagi sistem peternakan di Kabupaten Klaten yang tradisional dan dalam skala kecil. Hal ini berarti ternak merupakan aset kekayaan dan tumpuan hidup masyarakat (Rompis, 2002).
 Pada dasarnya dikenal dua strategi pemberantasan apabila prevalensi reaktor lebih dari 2% maka pemberantasannya dengan vaksinasi, sedangkan jika kurang dari 2% lazimnya dengan test and slaughter (CFT +), untuk selanjutnya terus dilakukan surveilans (Rompis, 2002 dan Putro 2009). Kabupaten Klaten tergolong dalam daerah sporadis ringan karena  Apperent prevalence nya adalah 2, 617% (dari 191 sampel yang diambil 5 sampel (+) CFT), sedangkan jika dihitung True prevalence / prevalensi sebenarnya diperoleh 3,02%:
Jika asumsi kita Sensitifitas CFT= 73,9%, Spesifisitas CFT= 99,6%,
Prevalensi sebenarnya=  =  = 0,0302
Mengingat adanya keterbatasan dana dalam program pengendalian dan pemberantasan brucellosis maka direncanakan dengan sistem target. Target yang pertama adalah wilayah, dimana wilayah yang diprioritaskan adalah wilayah paling beresiko tinggi yaitu Kecamatan Jatinom dan Tulung, sedangkan untuk dua kecamatan yang lain sebagai prioritas wilayah berikutnya. Target kedua adalah jenis populasi, populasi sebagai obyek surveilans adalah sapi betina dewasa (sudah bunting), dan obyek utama vaksinasi adalah sapi betina dewasa dan pedhet betina. Kegiatan depopulasi sapi reaktor dilakukan dengan sistem penjualan daging sapi reaktor, dengan pemotongan  bersyarat  dibawah pengawasan petugas. Kompensasi yang diberikan berupa tambahan dana untuk membeli ternak baru, jadi hasil penjualan daging sapi reaktor ditambah dana tambahan dari pemerintah digunakan peternak untuk membeli ternak baru. Sistem kompensasi ini diharapkan dapat memberantas penyakit, tidak merugikan peternak dan beban pemerintah tidak terlalu berat. Meskipun apparent prevalence nya sudah diatas 2% tetapi program test and slaughter direncanakan untuk mempercepat pemberantasan.
Program Vaksinasi direncanakan untuk 7 tahun, asumsi program pada tahun ke 5 sudah tervaksin 100% (tiap tahun proporsi ternak yang divaksinasi adalah 20%). 2 tahun terakhir untuk evaluasi program, sehingga pada tahun ke 7 semua betina dewasa  dalam usia yang sama dengan reaktor sudah tereliminasi secara alami, dan tahun ke 8 merupakan populasi bebas dari reaktor. Vaksin yang digunakan direncanakan menggunakan strain RB 51 yang tidak menimbulkan hasil positif palsu pada pemeriksaan serum konvensional, sehingga mengurangi biaya tagging ternak dan perwatan pasca tagging.
Kabupaten Klaten terutama pada 2 kecamatan target tersebut ternak merupakan sandaran hidup utama bagi masyarakat maka pelaksanaan program diharapkan dapat sukses. Kesuksesan program akan membantu meringankan beban kerugian ekonomi yang diderita masyarakat. Untuk itu perlu strategi pendekatan kepada masyarakat. Sosialisasi dan kesadaran masyarakat dalam mendukung program perlu dilakukan. Sebelum pelaksanaan program akan dilakukan kegiatan sosialisasi atau penyuluhan baik pada skala pejabat desa, kelompok-kelompok ternak ataupun masyarakat langsung. Apabila kesadaran peternak sudah tumbuh dan mengerti akan pentingnya program tersebut diharapkan untuk selanjutnya masyarakat mau dan mampu untuk secara mandiri melakukan vaksinasi brucellosis.
Hambatan-hambatan yang mungkin ditemui.
            Program yang direncanakan kurang lebih 7 tahun sangat rentan dengan berbagai masalah. Masalah-masalah yang mungkin ditemui adalah;
·         Pelaksanaan test and slaughter tidak berhasil, ternak tidak boleh dijual dalam bentuk daging.
·         Ternak tidak boleh divaksinasi dengan alasan akan menurunkan produksi.
·         Ternak tidak boleh diambil sampel darahnya, takut jika ternyata ternaknya merupakan reaktor.
·         Waktu pelaksanaan kegiatan yang bersamaan dengan waktu kerja masyarakat.
·         Petugas pengawas pemotongan ternak dan petugas pengawasan lalulintas ternak yang lemah.
·         Kurang sumber daya petugas dalam pelaksanaan program.
·         Dana kegiatan berhenti ditengah program.
·         Komitmen dinas dalam jangka waktu 7 tahun ada kemungkinan terjadi perubahan kebijakan.
·         Mobilitas ternak yang terlalu tinggi.
·         Recording terhadap ternak yang tidak rapi.


ANALISIS EKONOMI PROGRAM PEMBERANTASAN BRUCELLOSIS DI DAERAH RESIKO TINGGI KABUPATEN KLATEN

            Parameter yang digunakan dalam penghitungan kerugian dan pelaksanaan program adalah parameter ekonomi dan parameter epidemiologi, dimana masing-masing menggunakan dasar data laboratorium, studi pustaka, data lapangan dan informasi para ahli.
Untuk parameter ekonomi adalah:
Nilai dan harga pada parameter ekonomi diperoleh dari survei pasar dan kenyataan yang ada didaerah pada saat ini.
Parameter epidemiologi yang digunakan dalam analisa adalah:
Parameter epidemiologi diperoleh dari data lapangan, hasil laporan laboratorium, studi pustaka, dan hasil penelitian-penelitian sebelumnya.
Dari kedua parameter tersebut maka kerugian-kerugian ekonomi dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Perinatal Mortality:
Pr x Mpe x Hpe
2.      Penurunan Produksi Susu:
1.      Kerugian  langsung akibat Penurunan produksi Susu:

Pr x Lm x  L x Lt x Hs

2.      Biaya kehilangan susu akibat meningkatnya  interval beranak:

3.      Biaya kehilangan susu akibat meningkatnya abortus: (angka 16 diperoleh dari asumsi abortus pada kebuntingan trimester ke 3 yaitu 7 bulan + lama kebuntingan berikutnya)

3.      Penurunan Berat Badan:
1.      Kerugian langsung akibat penurunan Berat badan:
Pr x (1-Lm) x WL x Ws x Hd ...

2.      Biaya kehilangan berat badan akibat meningkatnya interval beranak:
                       
3.      Biaya kehilangan berat badan akibat meningkatnya abortus:
 ...

4.      Tukar Ternak:
Pr x Ab x T x Rc ...
5.      Opportunity Cost
Pr x Oc
6.      Penurunan produktivitas tenaga kerja manusia akibat sakit
(Pr x Sk x 3) + (Pr x D) ...
7.      Biaya desinfeksi dan disposal:
Pr x De x (Dc + Sc) ...
8.      Biaya tukar ternak reaktor oleh pemerintah:
Pr x De x Rc
9.      Biaya surveilans:
(1-Pr) x Psu x (S + Ms + Lab) ...
10.  Biaya Vaksinasi:
·         Vaksinasi pada sapi betina Dewasa:
(1-   Pr) x Pv x (V + Opv)...
·         Vaksinasi pada Pedhet
(1-   Pr) x PeV x (Vpe + Opv) ...
11.  Penurunan Harga Jual Sapi Betina dewasa:
(1-   Pr) x Pj x Dp ...
12.  Biaya operasional penyuluhan, operasional pengawasan lalulintas ternak dan pengadaan materi penyuluhan.

Evaluasi Kegiatan tahun 2010
            Pada saat kejadian wabah tahun 2010 merupakan kasus baru dan pemerintah daerah Kabupaten Klaten dalam hal ini Dinas yang membidangi peternakan belum memiliki strategi penanganan, maka pada tahun 2010 belum dilakukan kegiatan penanganan kasus brucellosis. Kebijakan sementara yang dilakukan oleh dinas adalah isolasi terhadap ternak reaktor agar tidak dijual dengan cara pendekatan kepada pemilik ternak. Tidak diketahuinya berapa angka prevalensi pada saat itu menyebabkan semakin sulit untuk mengambil kebijakan yang lebih kongkrit, ditambah tidak adanya dana jika harus melakukan kompensasi ternak.
            Evaluasi kegiatan tahun 2010 adalah evaluasi kerugian ekonomi yang ditanggung oleh peternak sebagai dampak langsung brucellosis pada kegiatan produksi peternakan dan dampak tidak langsung. Rincian Kerugian ekonomi tahun 2010 pada Tabel 1.
Program Tahun I
            Program tahun I direncanakan melakukan kegiatan desinfeksi dan disposal, tukar ternak reaktor oleh pemerintah daerah, surveilans, penyuluhan, pengadaan leaflet, pengawasan lalulintas ternak dan vaksinasi terhadap ternak target yaitu sapi betina dewasa dan pedhet betina. Proporsi hewan terkena brucellosis diasumsikan masih sama dengan pada tahun 2010 karena pada tahun tersebut belum dilakukan kegiatan apapun. Kegiatan program tahun pertama diharapkan sudah dijalankan diawal tahun sehingga diharapkan kerugian yang ditanggung akan semakin berkurang. Parameter kerugian secara epidemiologi diharapkan sudah menurun, misalnya angka keguguran menurun dari 15% menjadi 10%, angka kematian anak sapi menurun dari 10% menjadi 6% dan seterusnya. Pada Tahun pertama program diasumsikan dapat melakukan tukar ternak reaktor sebanyak 90%. Rincian kerugian secara ekonomi dan biaya program tahun I pada Tabel 2.
Program Tahun II
            Program tahun II melanjutkan tahun sebelumnya, melakukan kegiatan desinfeksi dan disposal, tukar ternak reaktor oleh pemerintah daerah, surveilans, pengawasan lalulintas ternak dan vaksinasi terhadap ternak target yaitu sapi betina dewasa dan pedhet betina. Pada tahu II ini penyuluhan tidak dilakukan lagi karena semua kegiatan penyuluhan sudah dilakukan pada tahun I. Vaksinasi pada hewan target dilanjutkan 20% populasi berikutnya. Karena pada tahun sebelumnya sudah dilakukan tukar ternak reaktor sebanyak 90% maka diasumsikan proporsi hewan yang terkena brucellosis sudah berkurang sebanyak 90% juga, sehingga diasumsikan pada tahun II ini proporsinya tinggal 0,5%. Kegiatan tukar ternak reaktor pada tahun ini diharapkan dapat dilakukan 100% diasumsikan jumlah reaktor semakin sedikit.  Sebagai dampak positif dari Program tahun I dan II maka terjadi penurunan pada berbagai faktor kerugian. Rincian kerugian secara ekonomi dan biaya program Tahun II pada Tabel 3.


TABEL 1 Evaluasi Tahun 2010
No
Jenis Kerugian
Faktor
populasi Jtn & Tlg
Biaya 1
1
2
3
4
Populasi 4 Kecmt
Biaya 2
Dampak Langsung
1
perinatal mortality
Pr x Mpe x Hpe
Mpe= 0,10
Pr= 0,02617
hpe= 1000000
5.152
13.482.784,00
14.590,00
38.182.030,00
2
penurunan produksi susu
0,00
0
0,00
Akibat langsung
Pr x Lm x L x Lt x Hs
L= 0,15
Lt= 1200
Lm= 0,40
Hs= 3000
5.152
29.122.813,44
14.590,00
82.473.184,80
interval beranak
((12/I)-(12/I + Wp)) x Pr x Lm x Lr x Hs
I= 15
Wp= 4
Lr= 1440
5.152
39.239.159,16
14.590,00
111.121.764,78
Abortus
((12/I)-(12/I + (16 x Ab)) x Pr x Lm x Lr x Hs
Ab= 0,15
5.152
25.708.414,62
14.590,00
72.803.914,85
3
Penurunan Berat Badan
0,00
0,00
0,00
Akibat Langsung
Pr x (1 - Lm) x WL x Ws x Hd
WL=0,05
Ws= 400
Hd= 18000
5.152
29.122.813,44
14.590,00
82.473.184,80
Interval Beranak
((12/I) - (12/I + Wp)) x Pr x Lm x Wpe x Hd
Wpe= 20
5.152
3.269.929,93
14.590,00
9.260.147,06
Abortus
((12/I) - (12/I + (16 x Ab)) x Pr x Lm x Wpe x Hd
D= 50000
5.152
2.142.367,88
14.590,00
6.066.992,89
4
Tukar ternak
Pr x Ab x T x Rc
T= 0,15
Rc= 1500000
5.152
4.550.439,60
14.590,00
12.886.435,13
5
Opportunity Cost
Pr x Oc
Oc= 120000
5.152
16.179.340,80
14.590,00
45.818.436,00
6
Penurunan produktivitas SDM
(Pr x populasi x Sk x 3) + (Pr x Populasi x D)
Sk= 30000
5152
18.875.897,60
14.590,00
53.454.842,00
Sub Total
181.693.960,47
514.540.932,31
Dampak Tidak Langsung
Dc= 50000
7
Desinfeksi dan Disposal
Pr x De x (Dc + Sc)
De= 0
Dp= 750000
5152
0,00
14.590,00
0,00
8
Penurunan penjualan Sapi
(1 - Pr) x Pj x Dp
Pj= 0,01
Sc= 100000
5152
37.628.791,20
14.590,00
106.561.347,75
Sub Total
37.628.791,20
106.561.347,75
Total
219.322.751,67
621.102.280,06
TABEL 2 Program Tahun I
No
Jenis Kerugian
Faktor
populasi Jtn & Tlg
Biaya 1
1
2
3
4
Populasi 4 Kecmt
Biaya 2
Dampak Langsung
1
perinatal mortality
Pr x Mpe x Hpe
Mpe= 0,06
Pr= 0,02617
hpe= 1000000
5.152
8.089.670,40
14.590,00
22.909.218,00
2
penurunan produksi susu
0,00
0
0,00
Akibat langsung
Pr x Lm x L x Lt x Hs
L= 0,10
Lt= 1200
Lm= 0,40
Hs= 3000
5.152
19.415.208,96
14.590,00
54.982.123,20
interval beranak
((12/I)-(12/I + Wp)) x Pr x Lm x Lr x Hs
I= 15
Wp= 2
Lr= 1440
5.152
21.927.765,41
14.590,00
62.097.456,78
Abortus
((12/I)-(12/I + (16 x Ab)) x Pr x Lm x Lr x Hs
Ab= 0,10
5.152
17.964.916,24
14.590,00
50.875.024,83
3
Penurunan Berat Badan
0,00
0,00
0,00
Akibat Langsung
Pr x (1 - Lm) x WL x Ws x Hd
WL=0,03
Ws= 400
Hd= 18000
5.152
17.473.688,06
14.590,00
49.483.910,87
Interval Beranak
((12/I) - (12/I + Wp)) x Pr x Lm x Wpe x Hd
Wpe= 20
5.152
1.827.313,78
14.590,00
5.174.788,05
Abortus
((12/I) - (12/I + (16 x Ab)) x Pr x Lm x Wpe x Hd
D= 50000
5.152
1.497.076,35
14.590,00
4.239.585,39
4
Tukar ternak
Pr x Ab x T x Rc
T= 0,10
Rc= 1500000
5.152
2.022.417,60
14.590,00
5.727.304,50
5
Opportunity Cost
Pr x Oc
Oc= 120000
5.152
16.179.340,80
14.590,00
45.818.436,00
6
Penurunan produktivitas SDM
(Pr x populasi x Sk x 3) + (Pr x Populasi x D)
Sk= 30000
5152
18.875.897,60
14.590,00
53.454.842,00
Sub Total
125.273.295,20
354.762.689,63
Dp= 750000
Dampak Tidak Langsung
Lab= 3000
7
Desinfeksi dan Disposal
Pr x De x (Dc + Sc)
De=0,9
5152
18.201.758,40
14.590,00
51.545.740,50
8
Tukar ternak oleh Pemerintah
Pr x  De x Rc
Dc= 50000
5152
182.017.584,00
14.590,00
515.457.405,00
9
Biaya Surveilans
(1-Pr) x Psu x (S + Ms + Lab)
Psu= 0,1
Ms= 4000
S= 5000
5152
6.020.606,59
14.590,00
17.049.815,63
10
Vaksinasi Betina Dewasa
(1-Pr) x Pv x (V + Opv)
Pv= 0,20
V= 10000
Opv= 3000
5151
13.044.647,62
14.590,00
36.948.438,90
11
Vaksinasi Pedhet Betina
(1-Pr) x PVp x (Vpe + Opv)
PVp= 0,20
Vpe= 100000
3476
69.731.681,45
9.078,00
182.112.832,05
12
Penurunan penjualan Sapi
(1 - Pr) x Pj x Dp
Pj= 0,01
Sc= 100000
5152
37.628.791,20
14.590,00
106.561.347,75
13
Penyuluhan
Opp + Ap
Ap= 1000000
Opp=1000000
2.000.000,00
4.000.000,00
14
Leaflet
Lef=2000000
2.000.000,00
2.000.000,00
15
Pengawasan La-lin Ternak
OLL
OLL=9125000
9.125.000,00
9.125.000,00
Sub Total
339.770.069,26
924.800.579,83
Total
465.043.364,46
1.279.563.269,46







TABEL 3 Program Tahun II
No
Jenis Kerugian
Faktor
populasi Jtn & Tlg
Biaya 1
1
2
3
4
Populasi 4 Kecmt
Biaya 2
Dampak Langsung
1
perinatal mortality
Pr x Mpe x Hpe
Mpe= 0,03
Pr= 0,005
hpe= 1000000
5.030
754.500,00
14.246,00
2.136.900,00
2
penurunan produksi susu
0,00
0,00
Akibat langsung
Pr x Lm x L x Lt x Hs
L= 0,05
Lt= 1200
Lm= 0,40
Hs= 3000
5.030
1.810.800,00
14.246,00
5.128.560,00
interval beranak
((12/I)-(12/I + Wp)) x Pr x Lm x Lr x Hs
I= 15
Wp= 1
Lr= 1440
5.030
2.172.960,00
14.246,00
6.154.272,00
Abortus
((12/I)-(12/I + (16 x Ab)) x Pr x Lm x Lr x Hs
Ab= 0,05
5.030
1.760.372,66
14.246,00
4.985.739,35
3
Penurunan Berat Badan
0,00
0,00
Akibat Langsung
Pr x (1 - Lm) x WL x Ws x Hd
WL=0,01
Ws= 400
Hd= 18000
5.030
1.086.480,00
14.246,00
3.077.136,00
Interval Beranak
((12/I) - (12/I + Wp)) x Pr x Lm x Wpe x Hd
Wpe= 20
5.030
181.080,00
14.246,00
512.856,00
Abortus
((12/I) - (12/I + (16 x Ab)) x Pr x Lm x Wpe x Hd
D= 50000
5.030
146.697,72
14.246,00
415.478,27
4
Tukar ternak
Pr x Ab x T x Rc
T= 0,05
Rc= 1500000
5.030
94.312,50
14.246,00
267.112,50
5
Opportunity Cost
Pr x Oc
Oc= 120000
5.030
585,79
14.246,00
1.659,08
6
Penurunan produktivitas SDM
(Pr x populasi x Sk x 3) + (Pr x Populasi x D)
Sk= 30000
5.030
3.521.000,00
14.246,00
9.972.200,00
Sub Total
11.528.788,67
32.651.913,20
Dp= 750000
Dampak Tidak Langsung
Lab= 3000
7
Desinfeksi dan Disposal
Pr x De x (Dc + Sc)
De=1
5030
3.772.500,00
14.246,00
10.684.500,00
8
Tukar ternak oleh Pemerintah
Pr x  De x Rc
Dc= 50000
5030
37.725.000,00
14.246,00
106.845.000,00
9
Biaya Surveilans
(1-Pr) x Psu x (S + Ms + Lab)
Psu= 0,1
Ms= 4000
S= 5000
5030
6.005.820,00
14.246,00
17.009.724,00
10
Vaksinasi Betina Dewasa
(1-Pr) x Pv x (V + Opv)
Pv= 0,20
V= 10000
Opv= 3000
4026
10.415.262,00
11.404,00
29.502.148,00
11
Vaksinasi Pedhet Betina
(1-Pr) x PVp x (Vpe + Opv)
PVp= 0,20
Vpe= 100000
2799
57.371.103,00
7.310,00
149.833.070,00
12
Penurunan penjualan Sapi
(1 - Pr) x Pj x Dp
Pj= 0,01
Sc= 100000
5030
37.536.375,00
14.246,00
106.310.775,00
13
Pengawasan Lalin Ternak
OLL
OLL=9125000
9.125.000,00
9.125.000,00
Sub Total
161.951.060,00
429.310.217,00
Total
173.479.848,67
461.962.130,20
1
Populasi setelah ada depopulasi= 5152 x 0,02617 x 0,9 = 121,34
populasi setelah ada depopulasi= 5152 -121,34 = 5030
2
Populasi = 14590 x 0,02617 x 0,9 = 343,64
populasi = 14590 - 344 = 14246
3
populasi yg di vaksin dewasa= (1-0,02617) x 5152 x 0,2 = 1003,4
populasi yg divaksin dewasa= 5030-1004= 4026
4
Populasi yg divaksin pedhet= (1-0,02617) x 3476 x 0,2= 677
populasi yg divaksin pedhet= 3476 - 677 = 2799





Program Tahun III
            Program tahun III merupakan tahap pertama pemeliharaan status. Pemeliharaan status dimaksudkan karena pada tahun III ini sudah tidak ada lagi hewan reaktor. Apabila hewan reaktor sudah 0 ekor berarti penghitungan kerugian secara ekonomi terhadap dampak langsung produksi peternakan sudah menjadi 0 rupiah. Pada tahun ini kegiatan yang dilakukan hanya surveilans, melanjutkan vaksinasi ternak target dan pengawasan lalulintas ternak. Vaksinasi terus dilakukan sampai dengan 100% ternak target tervaksinasi semua, dan kegiatan surveilans terus dilakukan sampai dengan akhir program untuk bahan evaluasi. Pengawasan lalu-lintas ternak penting untuk ditegakkan karena merupakan salah satu pintu resiko tertinggi dalam penularan penyakit. Rincian biaya program Tahun III pada Tabel 4.
Asumsi kerugian dan pengeluaran biaya akibat Brucellosis untuk Biaya 1 (2 kecamatan).
2010
Program Tahun I
Program Tahun II
Program Tahun III
Dampak Langsung
181.693.960,47
125.273.295,20
11.528.788,67
0,00
Dampak Tidak Langsung
37.628.791,20
339.770.069,26
161.951.060,00
83.170.770,00
219.322.751,67
465.043.364,46
173.479.848,67
83.170.770,00

Asumsi Kerugian dan pengeluaran biaya akibat brucellosis untuk Biaya 2 (4 kecamatan)
2010
Program Tahun I
Program Tahun II
Program Tahun III
Dampak Langsung
514.540.932,31
354.762.689,63
32.651.913,20
0,00
Dampak Tidak Langsung
106.561.347,75
924.800.579,83
429.310.217,00
214.359.637,35
621.102.280,06
1.279.563.269,46
461.962.130,20
214.359.637,35



TABEL 4 Program Tahun III
No
Jenis Kerugian
Faktor
populasi Jtn & Tlg
Biaya 1
1
2
3
4
Populasi 4 Kecmt
Biaya 2
Dampak Langsung
1
perinatal mortality
Pr x Mpe x Hpe
Mpe= 0,03
Pr= 0,0
hpe= 1000000
5.005
0,00
14.174,00
0,00
2
penurunan produksi susu
0
0,00
0,00
0,00
Akibat langsung
Pr x Lm x L x Lt x Hs
L= 0,05
Lt= 1200
Lm= 0,40
Hs= 3000
5.005
0,00
14.174,00
0,00
interval beranak
((12/I)-(12/I + Wp)) x Pr x Lm x Lr x Hs
I= 15
Wp= 1
Lr= 1440
5.005
0,00
14.174,00
0,00
Abortus
((12/I)-(12/I + (16 x Ab)) x Pr x Lm x Lr x Hs
Ab= 0,05
5.005
0,00
14.174,00
0,00
3
Penurunan Berat Badan
0
0,00
0,00
0,00
Akibat Langsung
Pr x (1 - Lm) x WL x Ws x Hd
WL=0,01
Ws= 400
Hd= 18000
5.005
0,00
14.174,00
0,00
Interval Beranak
((12/I) - (12/I + Wp)) x Pr x Lm x Wpe x Hd
Wpe= 20
5.005
0,00
14.174,00
0,00
Abortus
((12/I) - (12/I + (16 x Ab)) x Pr x Lm x Wpe x Hd
D= 50000
5.005
0,00
14.174,00
0,00
4
Tukar ternak
Pr x Ab x T x Rc
T= 0,05
Rc= 1500000
5.005
0,00
14.174,00
0,00
5
Opportunity Cost
Pr x Oc
Oc= 120000
5.005
0,00
14.174,00
0,00
6
Penurunan produktivitas SDM
(Pr x populasi x Sk x 3) + (Pr x Populasi x D)
Sk= 30000
5.005
0,00
14.174,00
0,00
Sub Total
0,00
0,00
Dp= 0
Dampak Tidak Langsung
Lab= 3000
7
Desinfeksi dan Disposal
Pr x De x (Dc + Sc)
De=0
5005
0,00
14.174,00
0,00
8
Tukar ternak oleh Pemerintah
Pr x  De x Rc
Dc= 50000
5005
0,00
14.174,00
0,00
9
Biaya Surveilans
(1-Pr) x Psu x (S + Ms + Lab)
Psu= 0,1
Ms= 4000
S= 5000
5005
5.975.970,00
14.174,00
16.923.756,00
10
Vaksinasi Betina Dewasa
(1-Pr) x Pv x (V + Opv)
Pv= 0,20
V= 10000
Opv= 3000
3147
10.410.400,00
11.404,00
37.724.881,35
11
Vaksinasi Pedhet Betina
(1-Pr) x PVp x (Vpe + Opv)
PVp= 0,20
Vpe= 100000
2799
57.659.400,00
7.310,00
150.586.000,00
12
Penurunan penjualan Sapi
(1 - Pr) x Pj x Dp
Pj= 0,01
Sc= 100000
5005
0,00
14.174,00
0,00
13
Pengawasan Lalin Ternak
OLL
OLL=9125000
9.125.000,00
9.125.000,00
Sub Total
83.170.770,00
214.359.637,35
Total
83.170.770,00
214.359.637,35
1
Populasi setelah ada depopulasi= 5030x 0,005 x 1 = 25,15
populasi setelah ada depopulasi= 5030 - 25 = 5005
2
Populasi = 14246 x 0,005 x 1 = 71,23
populasi = 14246 - 72 = 14174
3
populasi yg di vaksin dewasa= (1-0,005) x 5030 x 0,2 = 1000,97
populasi yg divaksin dewasa= 5005- (1004 + 1001)= 3147
4
Populasi yg divaksin pedhet= (1-0,005) x 3476 x 0,2= 691,7
populasi yg divaksin pedhet= 3476 - 677 = 2799






Jumlah kerugian yang ditimbulkan akibat brucellosis pada tahun 2010 memperlihatkan angka yang sangat besar yang ditanggung oleh peternak. Angka tersebut akan terus membesar jika tidak dilakukan tindakan pengendalian dan pemberantasan. Pada program Tahun I memperlihatkan adanya penurunan kerugian yang merupakan dampak langsung ± 31%, pada program tahun II penurunan kerugian ± 93% dan program tahun III mencapai 100%. Pengeluaran tidak langsung yang merupakan biaya program pengendalian dan pemberantasan terbesar ada pada tahun I program, tahun II menurun ± 52% dan tahun III menurun ±75% . Pada Tahun I program merupakan langkah awal kegiatan, yang artinya hasil dari kegiatan tahun I merupakan investasi untuk tahun berikutnya. Kegiatan penyuluhan dan pendekatan kepada masyarakat difokuskan pada tahun I dengan tujuan memperoleh dukungan masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan. Untuk tahun ke IV dan selanjutnya biaya program dalam kisaran rupiah yang sama dengan tahun III. Jika melihat kerugian yang menjadi Rp 0,- maka program pengendalian dan pemberantasan ini sangat layak untuk dilakukan.
            Dengan keterbatasan dana yang dimiliki daerah maka pemberantasan dan pengendalian  dapat difokuskan pada daerah yang paling beresiko tinggi (daerah target) dan selanjutnya dapat di kembangkan ke daerah beresiko lainnya. Apabila dalam penggalangan kesadaran masyarakat dapat berhasil diharapkan masyarakat dapat secara mandiri melakukan vaksinasi untuk ternak-ternaknya, hal ini tentu akan sangat membantu kesuksesan program dan pengurangan biaya yang ditanggung pemerintah daerah.

KESIMPULAN DAN SARAN
·                Program Kegiatan Pengendalian dan pemberantasan Brucellosis di Kabupaten Klaten layak untuk dijalankan.
·                Melibatkan seluruh komponen masyarakat terutama tokoh masyarakat dan peternak untuk mendukung Program.







DAFTAR PUSTAKA

Bernues, A., Manrique, E., Maza, M.T., 1997, Economic evaluation of Bovine brucellosis and tuberculosis eradication programmes in a mountain area of Spain, Preventive Veterinary Medicine 30 (1997) 137-149.
Putro, P.P., 2009, Brucellosis dan Infectious Bovine Rhinotrcheitis Serta Pengaruhnya terhadap Daya reproduktivitas Sapi, Rapat Koordinasi dan Evaluasi Pembebasan Brucellosis Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan Banjarbaru 19-20 Oktober 2009.
Quinn, P.J., Markey, B.K., Carter, M.E., Donnely, W.J.C., and Leonard, F.C. 2007 Veterinary Microbiology and Mricrobial disease. Blackwell Science Ltd. 9600 Garsington road, Oxford, UK.
Rompis, A.L.T., 2002, Epidemiologi Bovine Brucellosis, dengan Penekanan pada Kejadian di Indonesia, J Vet 2002 3 (4) : 155-163.
Richey, E.J., and Harrel, D., 1997, Brucella Abortus Disease (Brucellosis) in Beef Cattle, University Of Florida, http://hammock.ifas.ufl.edu
Salmani, A.S., Siadat, S.D., Fallahian, M.R., Ahmadi, H., Norouzian, D., Yaghmai, P., Aghasadeghi, M.R., Mobarakeh, J.I., Sadat, S.M., Zangeneh, M., and Kheirandish, M. 2009. Serological Evaluation of Brucella abortus S99 Lipopolysaccharide Extracted by an Optimized Method. American Journal of infectious Diseases 5 (1): 11-16, 2009.
Singh, B. and Prasad, S., 2008, Modelling of Economic Losses due to Some Important Diseases in Goats in India, Agriculture Economics Research Review. Vol. 21 july-December 2008 pp 297-302.
Talaro, K.P., and Talaro, A., 2002. Foundations in Microbiology. 4th ed. E-book. www.mhhe.com/primis/online. ISBN 0-07-248864-6.
Thrusfield, M., 2007, Veterinary Epidemiologi, Third edition, Blackwell Publishing.

manajemen sapi perah







MANAJEMEN REPRODUKSI SAPI PERAH PADA PETERNAKAN RAKYAT
Oleh: drh. Ely Susanti
PENDAHULUAN
            Sebagian besar kebutuhan susu masyarakat Indonesia ditopang dari susu import. Data dari Direktorat Jenderal Peternakan menunjukkan bahwa konsumsi nasional susu pada tahun 2009 adalah 11,6 kg susu/kapita/tahun. Jika dilihat dari angka tersebut terlihat masih sangat kecil dibanding dengan negara-negara Asia lainnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat pemenuhan gizi masyarakat dari protein hewani terutama susu masih rendah. Rendahnya konsumsi susu pada masyarakat kemungkinan disebabkan oleh ketersediaan susu sangat sedikit sehingga harga tidak terjangkau oleh masyarakat. Melihat kenyataan tersebut berarti peluang usaha di bidang peternakan “perah” masih harus dikembangkan dan peluang pasarnya masih terbuka luas.
            Susu dapat kita peroleh dari berbagai jenis ternak, dapat berasal dari susu kambing, kerbau, sapi bahkan sekarang ada susu kuda. Paling umum dimasyarakat adalah susu yang diproduksi oleh sapi perah. Usaha peternakan sapi perah sudah dikenal oleh masyarakat, terutama pada daerah-daerah dataran tinggi. Sebagian besar yang ada di Indonesia adalah peternakan rakyat dengan jumlah kepemilikan yang kecil antara 1 – 10 ekor sapi perah, sedangkan peternakan dalam skala usaha komersial dan dengan manajemen profesional masih dapat dihitung dengan jari. Kondisi yang demikian menuntut adanya pengembangan dan pembinaan peternakan sapi perah rakyat agar produksi susunya dapat memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia sendiri.
            Tantangan dalam peningkatan produksi susu tidak akan lepas dari masalah manajemen pemeliharaan dan manajemen reproduksinya. Dalam assay ini akan fokus pada manajemen reproduksi sapi perah.

Peternakan Sapi Perah Rakyat
            Performan reproduksi sapi perah dipengaruhi oleh faktor  lingkungan dan faktor manajemen. Efisiensi reproduksi merupakan dasar utama memperoleh jumlah produksi susu yang maksimal, ada beberapa hal yang saling berkaitan yaitu body condition, pakan, masa transisi dari periode kering ke laktasi, siklus estrus normal, deteksi estrus dan kelangsungan hidup embrio, selain itu perlu diperhatikan pula hal-hal yang berhubungan dengan formulasi pakan, manajemen tempat pakan, kenyamanan kandang yang dapat melindungi dalam suhu dan kelembaban ekstrem, kandang jepit pemerahan, manajemen pemerahan, pencegahan terhadap mastitis, perhatian terhadap estrus dan ovulasi dan diagnosa dini terhadap kegagalan bunting (Diggins et al. 1954, and Bath et al. 1985).
            Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki banyak faktor lingkungan yang merugikan bagi pengembangan peternakan sapi perah, apalagi ditambah dengan pemilihan breed sapi perah Friesian Holstein yang dalam hal ini merupakan breed sapi besar. Jika dibandingkan dengan negara 4 musim produksi susu Friesian Holstein di Indonesia akan jauh menurun, hal ini disebabkan oleh panjangnya masa anestrus post partum. Anestrus post partum  dapat disebabkan oleh temperatur lingkungan daerah tropis yang terlalu panas, kualitas dan kuantitas pakan (hijauan dan konsentrat) yang rendah diikuti body condotion yang buruk (dibawah 3), penyakit reproduksi dan penyakit pada glandula mamaria yang relatif tinggi di daerah tropis, penyakit-penyakit post partum (hipokalsemia, sindrom sapi ambruk, milk fever dan lain-lain) dan spesial di daerah tropis adalah merupakan tempat tumbuh suburnya berbagai macam parasit sehingga tingkat infestasi parasit pada sapi perah juga cukup tinggi yang menyebabkan performa sapi semakin buruk.
            Faktor genetik sangat berpengaruh terhadap performa reproduksi sapi perah, ada beberapa breed sapi perah yang ada yaitu ayrshire, guernsey, jersey, brown swiss dan holstein. Awal dibudidayakannya sapi perah di Indonesia adalah sapi perah jenis Friesian Holstein. Friesian Holstein merupakan jenis sapi besar yang memiliki kemampuan produksi susu yang paling tinggi dibandingkan jenis lainnya, tetapi Friesian Holstein memiliki kelemahan jika dikembangkan didaerah tropis seperti di Indonesia apalagi dengan model peternakan rakyat. Temperatur dan kelembaban daerah tropis yang sangat tinggi menyebabkan penguapan yang berlebihan pada sapi ini sehingga berakibat penurunan produksi susu dan stress pada sapi. Performa sapi yang cukup besar menuntut pemenuhan kualitas dan kuantitas pakan yang sesuai, hal ini jauh dari harapan dengan kondisi model peternakan rakyat Indonesia yang pada umumnya pakan sangat terbatas dan apa-adanya, sehingga Body condition  scorring ( BCS) yang ada lebih rendah dari 2,5. Seiring dengan berjalannya waktu dan pengalaman peternak Indonesia mulai mengembangkan sapi-sapi perah Peranakan Friesian Holstein (PFH atau blandong dalam istilah jawa) yang sebagian besar merupakan persilangan antara Friesian Holstein dengan sapi Peranakan Ongole (PO). Performa PFH lebih kecil daripada Friesian Holstein  tetapi telah beradaptasi dengan lingkungan tropis dan model peternakan rakyat Indonesia ( Putro, P.P. 2009, Stevenson, J.S. 2001).
            Budidaya sapi perah PFH diharapkan dapat mengurangi kelemahan-kelemahan pemeliharaan sapi perah pada daerah tropis sehingga permasalahan-permasalahan tersebut diatas dapat diminimalisir. Peningkatan produksi peternakan sapi perah rakyat dapat difokuskan pada perbaikan manajemen reproduksi. Perbaikan manajemen reproduksi ini bertujuan untuk memaksimalkan perolehan kebuntingan atau perolehan pedhet, yang terpenting dalam hal ini adalah siklus estrus yang baik, calving interval dan penentuan waktu yang tepat dalam aplikasi Inseminasi Buatan (IB). Untuk memaksimalkan efisiensi reproduksi diperlukan manajemen calving interval yang terdiri atas tiga komponen utama yaitu periode tunggu setelah partus pada betina dewasa atau periode kawin pada sapi dara, periode IB, dan masa kebuntingan (Stevenson, J.S. 2001). Dari ketiga komponen tersebut masing-masing memiliki tahapan-tahapan penting yang sangat berpengaruh terhadap proses reproduksi.

MANAJEMEN REPRODUKSI SAPI PERAH
Nutrisi
            Nutrisi merupakan faktor yang berhubungan dengan fertilitas seekor hewan. Nutrisi diperlukan untuk berjalannya reproduksi seperti halnya nutrisi dibutuhkan untuk pertumbuhan tubuh dan pada masa laktasi. Kekurangan nutrisi pada sapi perah betina dapat menyebabkan masa pubertas terlambat, asumsi untuk sapi dara adlah umur 15 bulan sudah birahi tetapi dapat mundur sampai dengan 20 bulan. Pada sapi perah masa laktasi seringkali terjadi nutrisi yang sangat kurang karena pada masa tersebut nutrisi diperlukan untuk produksi susu, akibatnya nutrisi untuk reproduksi sangat minimal,  berat badan menurun, terlambatnya estrus pertama post partus, menurunkan conception rates, dan besarnya kejadian silent estrus ( Dillon et al. 2003, Benson et al. 2004).
            Energi dan protein mutlak dibutuhkan untuk perkembangan reproduksi baik dalam bentuk pakan kering maupun hijauan. Malnutrisi pada reproduksi menyebabkan hewan menjadi lebih kecil dari ukuran normal/kerdil, ovarium tidak berkembang normal sehingga terjadi siklus estrus yang tidak teratur dan fertilitas rendah. Selain energi dan protein nutrisi lain yang perlu terpenuhi adalah vitamin dan mineral. Kekurangan vitamin A dapat menyebabkan kelahiran pedhet yang lemah atau bahkan kematian fetus dan retensi plasenta. Defisiensi vitamin D menyebabkan siklus estrus yang tidak tentu dan pedhet yang dilahirkan menderita rickets. Vitamin E dibutuhkan untuk memelihara reproduksi normal, pemberian vitamin E dan selenium pada sapi bunting dapat menurunkan kejadian retensi plasenta. Kecambah dan minyak gandum dapat dijadikan sumber vitamin E untuk menjaga reproduksi norma (Bath et al. 2985).
            Kejadian paling sering pada sapi perah adalah defisiensi mineral terutama pospor yang sangat berpengaruh terhadap status reproduksi. Defisiensi pospor dapat menyebabkan pubertas terlambat, siklus estrus terhenti dan menurunkan conception rate. Pakan dengan campuran tepung tulang dengan campuran konsentrat padi dapat memperbaiki defisiensi pospor. Mineral lain yang penting untuk reproduksi adlah cobalt, copper, iodine dan mangane, mineral-mineral ini biasanya sudah terpenuhi dalam sediaan garam dalam pakan dan pakan polong-polongan (Bath et al. 2985). Nutrisi mutlak terpenuhi untuk sapi perah untuk produksi susu yang tinggi dan efisiensi reproduksi.
Program Manajemen Untuk Reproduksi yang Optimal
Masa Istirahat Post Partus
            Idealnya agar mendapatkan produksi susu yang tinggi calving interval pada sapi perah dara adalah 13 bulan dan 12 bulan untuk selanjutnya. Pada kenyataannya di peternakan rakyat calving interval dapat mencapai 15-18 bulan, pada sapi-sapi produksi tinggi sering tidak segera estrus kembali setelah partus. Masa istirahat yang diperlukan setelah partus antara 40-70 hari. Masa istirahat ini adalah masa involusi uterus untuk persiapan kebuntingan berikutnya. Dalam beberapa penelitian menyebutkan masa istirahat yang lebih panjang akan memperbaiki nilai conception rate karena perbaikan organ reproduksi yang lebih sempurna. Sapi dengan kondisi semua normal waktu yang diperlukan untuk sempurnanya involusi uterus tidak lebih dari 40 hari, hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain adalah (Stevenson, J.S. 2001);
1.  Masa periparturient.
Proses kelahiran memerlukan perhatian, perawatan dan kebersihan, karena banyak hal yang akan terjadi setelah kelahiran misalnya induk menjadi sakit atau sehat, produksi susu rendah atau tinggi, siklus reproduksi kembali normal atau tidak normal, pedhet lahir normal atau mengalami kelainan bahkan mungkin terjadi kematian. Pada masa ini kebutuhan nutrisi sangat tinggi untuk kekuatan feto-plasenta, persiapan glandula mamaria, kekuatan induk untuk melahirkan dan kekebalan induk dari berbagai penyakit.
2.  Masa Sesudah Partus
Fokus perhatian diberikan pada induk dan pedhetnya kurun waktu 1-2 minggu post partus, ditempatkan dalam kandang isolasi khusus untuk monitoring setiap hari temperatur dan tanda-tanda kemungkinan sakit. Beberapa suplement obat diberikan pada masa ini untuk menurunkan panas, involusi uterus, tambahan energi, tambahan kalsium dan antibiotik sistemik.
3.  Kembalinya Siklus Estrus
Siklus estrus normal rata-rata 3 minggu (18-24 hari) pada sapi yang telah mencapai usia pubertas. Pada sapi perah sering lebih bervariasi terutama setelah beranak. Gelombang perkembangan folikel ovarium terjadi pada minggu pertama setelah partus, dan folikel dominan pertama  biasanya diovulasikan.
Nafsu makan perlu diperbaiki untuk memastikan terpenuhinya Diet intake minimum normal, sapi yang sehat perlu menjaga nutrisi untuk produksi susu yang maksimal, perkembangan folikel, berhasilnya ovulasi, sempurnanya involusi uterus dan persiapan kebuntingan berikutnya. Sapi perah masa laktasi biasanya mengalami keseimbangan energi yang negatif terutama terendah pada saat minggu 1-2 pasca beranak dan membaik dalam waktu yang bervariasi, kemudian ovulasi pertama dapat terjadi pada 10-15 hari pasca kondisi terendah tersebut. Dengan  perbaikan intake pakan dan minum, sapi perah akan kembali dalam keseimbangan energi yang baik dalam waktu 6-10 minggu setelah beranak. Sebagian besar dilaporkan bahwa ovulasi post partus pertama pada sapi perah terjadi pada akhir bulan pertama setelah beranak, sehingga biasanya conception dapat terjadi dengan baik pada ovulasi kedua post partus karena involusi uterus telah sempurna dan energi telah seimbang.
Body Condition Score (BCS) juga memiliki pengaruh dalam conception dan jumlah keberhasilan IB. Beberapa hasil studi menjelaskan bahwa sapi-sapi yang kehilangan 0,5 – 1,0 unit BCS pada post partus masih memiliki conception yang lebih baik (IB pertama berhasil) dibanding yang mengalami penurunan BCS > 1,0 unit. Untuk menjaga pemenuhan BCS dan diet intake minimal serta keseimbangan energi yang dibutuhkan, seekor sapi harus mengkonsumsi nutrisi >4% berat badan setiap hari. Hal ini penting ditekankan pada peternak rakyat karena kasus-kasus tidak kembalinya siklus estrus sangat tinggi sekali dan rata-rata diakibatkan karena tidak terpenuhinya diet intake minimal.
4.  Breeding Program
Breeding program atau program perkawinan, dilaksanakan secara terkontrol, meliputi beberapa pekerjaan penting yaitu;
1)     Ada petugas yang mengatur sebaik-baiknya jadwal pekerjaan dalam pemeliharaan sapi perah terutama siklus reproduksinya. Memiliki recording yang jelas terhadap masing-masing sapi, umur, tanggal birahi, tanggal dikawinkan, tanggal beranak, dan lain-lain.
2)     Pengawasan terhadap deteksi estrus dan ovulasi yang akurat.
3)     Pengetahuan yang jelas mengenai tahapan-tahapan estrus sapi dan status reproduksi sapi.
4)     Pengetahuan tentang status kebuntingan sapi.
Targeted Breeding Program.  Merupakan program sinkronisasi birahi, tujuannya untuk membuat birahi yang serempak pada beberapa ekor sapi perah. Program ini biasanya dilakukan bertujuan untuk efisiensi perawatan reproduksi sapi dan mengoptimalkan produksi. Biasanya dilakukan dengan injeksi PGF2α, yang diaplikasikan 2 kali berjarak 11-14 hari. Injeksi pertama hampir 50% sapi menunjukkan estrus tetapi tidak dilakukan inseminasi. Setelah  injeksi yang kedua kemudian dilakukan deteksi estrus dan IB. Jika setelah injeksi kedua tidak terdeteksi estrus maka dilakukan injeksi yang ketiga berselang 14 hari dari injeksi kedua dan dilakukan IB pada 72-80 hari setelah injeksi PGF2α yang ketiga.


(Stevenson, J.S, 2001)
Periode Kawin
Pengamatan terhadap tanda-tanda birahi sapi sangat penting dilakukan sesuai dengan jadwal siklus reproduksi sapi, dengan tujuan mengetahui waktu yang tepat untuk dilakukan IB atau kawin alami. Pengawasan paling tidak dilakukan 2 kali sehari secara khusus dan ditambah pengawasan pada saat memberi pakan atau saat pemerahan. Sapi perah birahi terjadi antara jam 16.00-18.00 dan 05.00-07.00, untuk itu pengawasan pada saat malam hari juga perlu dilakukan. Exercise pada sapi betina perlu dilakukan secara teratur agar terlihat aktifitas birahi seperti menaiki temannya atau dinaiki temannya (Stevenson, J.S. 2001, Schefers at al. 2009).
1.  Deteksi estrus
Pengetahuan yang jelas mengenai tahapan-tahapan estrus sapi dan status reproduksi sapi. Tahap-tahap tersebut adalah;
Tahap 1 adalah Pro estrus, merupakan tahapan dimana awal estrus, biasanya sapi mulai gelisah, sedikit keluar lendir, vulva mulai membengkak, dalam kisaran waktu 0-4 atau 0-6 jam. Pada saat ini belum waktunya dikawinkan.
Tahap 2 adalah standing heat atau birahi, ditandai dengan keluar lendir bening, vulva terlihat merah bengkak dan hangat, diam jika dinaiki temannya, jinak jika didekati, sering melenguh, gelisah, nafsu makan-minum menurun. Perkawinan akan berhasil jika dilakukan pada 10 jam pertama setelah terlihat tanda-tanda birahi atau paling lambat 6 jam  pertama setelah tanda-tanda birahi sudah berakhir. Jika birahi diketahui pada saat pagi hari sebaiknya di IB sore hari pada hari itu, jika birahi diketahui saat sore hari maka IB dilakukan pada pagi hari dihari berikutnya.
Tahap 3 adalah Met estrus, berlangsung 3-4 hari pasca birahi. Pada tahap ini terjadi ovulasi, ovulasi terjadi pada 24 jam- 32 jam sejak pro estrus. Biasanya 85% dari periode birahi sapi dara dan 50% sapi induk berakhir dengan keluarnya darah dari vulva.
Tahap 4 adalah Diestrus, masa ini merupakan masa antar birahi, berlangsung 12-18 hari setelah Met estrus sampai ke periode Pro estrus. Pada tahap ini status reproduksi tidak aktif.
Pada beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa deteksi estrus pada sapi perah dengan produksi susu yang tinggi lebih sulit dilakukan, hal ini ekuivalen antara rata-rata produksi susu dan rata-rata siklus estrus . Aktifitas birahi jelas lebih terlihat pada tahap proestrus dan estrus, seperti menaiki dan dinaiki temannya, aktifitas ini karena pengaruh estrogen (midcycle fungtional Corpus Luteum). Aktifitas birahi juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, pada kandang yang terlalu rapat dan sapi yang ditambat terus-menerus maka aktifitas ini menjadi berkurang. Maka exercise sangat penting pada sapi perah untuk memastikan kondisi kaki dan performa tubuh yang sehat dan memudahkan dalam deteksi birahi.
2.  Alat Bantu Deteksi Estrus
Idealnya untuk deteksi estrus mengikuti beberapa karakteristik yaitu; surveilans yang terus berkelanjutan terhadap sapi, identifikasi estrus yang akurat dan otomatis, sapi-sapi dalam masa produktif, peralatan kerja yang simpel, akurasi dan efisiensi yang tinggi dalam identifikasi sehibungan dengan fisiologis estrus dan ovulasi. Alat-alat yang biasanya digunakan adalah heat mount detector yang diletakkan di pantat sapi, Activated (colored) KaMar heat mount detector, tail paint, tail chalk, dan electronic gadgetry yang mahal lainnya. Berbagai alat tersebut hanya membantu deteksi ketika tidak ada petugas yang dapat mengamati, karena deteksi estrus yang paling akurat adalah dengan melakukan observasi langsung (Stevenson, J.S. 2001, Bath at al. 1985).

3.  Pemilihan bibit IB atau pejantan.
Recording masing-masing sapi yang teratur sangat menguntungkan dalam pemilihan bibit. Pencatatan ini harus didukung oleh peternak sebagai pemilik dan petugas inseminasi, sehingga dapat dihindari kasus inbreeding atau kawin dengan kerabat yang terlalu dekat. Untuk memperoleh keturunan sapi perah yang baik biasanya dilakukan 2 sistem breeding  yaitu upgrading dan purebreeding, keduanya berasal dari ras atau jenis yang sama dengan tujuan mempertahankan ras dan produksinya (Diggins at al. 1954).

4.  Konfirmasi Kebuntingan.
Setelah 21 hari sapi yang telah di IB tidak menunjukkan gejala minta kawin lagi maka kemungkinan telah terjadi kebuntingan. Konfirmasi kebuntingan dapat dilakukan dengan pemeriksaan oleh petugas khusus. Jika sapi tidak bunting setelah di IB atau kawin alami lebih dari 3 kali maka perlu dilakukan pemeriksaan oleh dokter hewan mengenai status kesehatan organ-organ reproduksinya. Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untu segera mengetahui penyebab gagalnya IB tersebut dan melakukan penanganan (Putro, P.P. 2009, Stevenson, J.S. 2001).

Kebuntingan dan Masa Kering

Body Condition dan Berat Badan
            Performa sapi perah pada masa laktasi berikutnya tergantung kondisinya pada saat bunting dan masa kering. BCS sapi perah menjelang masa kereing sebaiknya antara 3,25 – 3,75. Masa kritis BCS adalah pada 100 hari masa laktasi, karena jika terlalu kurus maka akan banyak energi yang dihabiskan untuk perbaikan kondisi tubuh selama laktasi dan selama masa kering (Stevenson, J.S. 2001). Menjelang bunting kualitas pakan harus diperhatikan agar pertumbuhan fetus dan induk terjaga baik, sehingga menjaga kelancaran dan keamanan pada waktu beranak dan produksi susu yang baik (Enevoldsen, at al. 1996). BCS dan berat badan yang rendah dapat menyebabkan gangguan pada saat beranak seperti prolapsus, retensi plasenta, distokia dan gangguan kesehatan lainnya sepeerti sindroma sapi ambruk, hipokalsemia, milk fever dan lain-lain (Putro, P.P. 2009)

Masa Kering
            Pada masa kering yang hal paling sering terjadi di peternakan rakyat adalah peternak kurang memperthatikan masalah kebutuhan nutrisi sapi karena pada masa tersebut sapi dianggap tidak menghasilkan. Kondisi inilah yang sering menyebabkan banyaknya masalah pada sapi-sapi perah rakyat terutama pada saat bunting tua, saat beranak, pasca beranak dan masalah kesehatan pedhet. Kebutuhan nutrisi yang tidak terpenuhi disaat masa kritis tersebut mengakibatkan kerugian yang sangat besar bagi peternak, biaya ekstra yang harus dikeluarkan untuk menolong sapi yang prolapsus, ambruk, distokia, pedhet yang lemah dan ditambah lagi siklus reproduksi berikutnya yang tidak berjalan normal kembali (Stevenson, J.S. 2001, Schefers at al. 2009).
            Peternak perlu memperhatikan kebutuhan nutrisi sapi saat masa kering, karena nutrisi  pada masa kering dibutuhkan untuk perkembangan feto-plasental, serta keseimbangan antara kebutuhan serat dan energi. Pada saat mendekati partus kebutuhan energi lebih tinggi daripada kebutuhan serat .

Faktor-faktor Lain Yang Mempengaruhi Reproduksi

Abnormalitas Siklus Estrus
1)        Anestrus
               Anestrus merupakan kondisi dimana sapi perah tidak birahi, hal ini dapat disebabkan karena tidak berkembangnya ovarium. Ovarium yang tidak berkembang dapat karena sebab malnutrisi atau gangguan genetis. Pada umumnya penanganan pada masalah ini adalah pemberian hormon gonadotropin terutama FSH dosis tinggi. FSH dapat menghasilkan terjadinya ovulasi tetapi IB sebaiknya dilakukan pada estrus yang kedua (Putro, P.P. 2009, Stevenson, J.S. 2001).
               Retensi plasenta atau pyometra biasanya juga menyebabkan terjadinya anestrus. Pada kondisi ini terjadi corpus luteum persistent dimana adanya progesteron yang mencegah terjadinya estrus. Membersihkan plasenta dan pus dalam uterus adalah langkah pertama yang harus dilakukan untuk menangani kasus ini.
               Corpus luteum persistent dengan cairan didalamnya juga menyebabkan anestrus, atau pada kasus ini disebut cystic ovary. Pengobatan pada kasus ini dapat dengan cara penekanan CL ini melalui palpasi rektal. Cara ini juga sangat murah dan praktis tetapi perlu keahlian khusus, karena jika terlalu berlebihan dapat menyebabkan kerusakan permanen pada ovarium. Penanganan lainnya adalah dengan injeksi gonadotropin hormon dengan LH dosis tinggi atau dosis kecil PGF2α atau estrogen.
2)        Ireguler Siklus Estrus
               Sapi perah normal memiliki siklus estrus antara 18-24 hari. Pada sapi perah kadang-kadang  terjadi iregular siklus estrus yang tidak diketahui penyebabnya. Penyakit – penyakit infeksi pada saluran reproduksi patut dicurigai bila sapi menunjukkan siklus estrus yang tidak normal. Catatan siklus reproduksi sangat penting dalam hal ini untuk membantu diagnosa penyebab ireguler siklus estrus.
3)        Silent Heat/ Silent Estrus
               Kurang lebih ada 15-25% sapi perah pada saat ovulasi tidak menunjukkan tanda-tanda birahi yang jelas, sehingga menjadi masalah dalam deteksi estrus terutama pada sapi-sapi post partus  dan menjelang pubertas. Peternak seringkali tidak melihat tanda-tanda birahi karena durasi birahinya yang pendek, birahi pada malam hari atau alat bantu deteksi birahi yang tidak berjalan baik. Jika sapi perah memiliki kebiasaan demikian maka akan lebih efektif deteksi estrus dengan menggunakan pejantan (Putro, P.P. 2009, Stevenson, J.S. 2001).
4)        Nymphomania/ Constant Estrus
               Minta kawin yang terus-menerus, ada perpanjangan masa estrus. Penyebabnya adalah cystic ovary atau folicular cystic. Satu pengobatan yang utama adalah injeksi LH, setelah injeksi LH biasanya akan diikuti dengan luteinization dari dinding folikel sehingga siklus estrus kembali normal dan konsepsi biasanya terjadi pada estrus berikutnya. Kasus cystic ovary atau folicular cystic pada beberapa penelitian menyebutkan berhubungan dengan jumlah produksi susu, walaupun tidak secara langsung (Putro, P.P. 2009, Stevenson, J.S. 2001).

Pencegahan Penyakit
            Dalam pemeliharaan sapi perah sejak awal penting diperhatikan masalah genetisnya. Memilih sapi dengan produksi tinggi memiliki catatan kesehatan yang baik lebih diutamakan untuk efisiensi biaya produksi. Manajemen kesehatan sapi terlihat sangat bernilai ekonomi terutama pada peternakan berskala besar, meskipun demikian pada peternakan rakyat harus memahami pentingnya nilai kesehatan ternak yang akan berimbas pada jumlah produksi, reproduksi dan biaya pengobatan. Hal-hal yang perlu diprogramkan dalam peternakan sapi perah yaitu; vaksinasi bagi sapi-sapi baru, pemberantasan cacing, kontrol terhadap mastitis, perawatan kuku, pengecekan reproduksi dan pemeriksaan sampel darah, sampel jaringan pada kasus-kasus penyakit yang tidak diketahui.

IB teknik, Handling dan Timing
             Menurut Stevenson, J.S. 2001,  Schefers at al. 2009 dan Enevoldsen at al.1996. Teknik IB mungkin merupakan penyebab atau juga tidak sebagai penyebab gagalnya inseminasi. Titik kritis dari teknik IB adalah penempatan semen pada badan uterus, karena hanya sedikit sperma motil yang mampu mencapai oviduk jika semen hanya ditempatkan dicervix dibanding di uterus.
            Handling semen juga sangat penting karena membran sperma merupakan bagian yang paling rapuh, mudah sekali mengalami cold and heat shocked. Dalam handling semen perlu mengikuti petunjuk yang aman dalam pengambilan, thawing, transportasi, dan menjaga semen aman masuk kedalam sapi. Teknik handling yang harus diikuti adalah saat memindahkan straw harus dijagajangan sampai melalui garis beku dalam kontainer, thawing straw pada air hangat suhu 37⁰C dalam waktu paling tidak 40 detik. Thawing pada suhu yang tepat adalah titik kritis dalam handling semen.
            Ketepatan waktu pada IB adalah dimana sperma dapat mencapai oviduk tepat saat ovulasi. Jika handling dari frozen-thawing semen dilakukan secara baik maka waktu hidup sperma diperkirakan <48 jam didalam oragan reproduksi betina.Sperma membutuhkan waktu untuk mencapai kornu uterin ke uterotubal junction dan masuk ke oviduk, dan mencapai proses maturasi yang disebut kapasitasi. Berdasarkan pada program deteksi estrus maka IB dilakukan 12 jam setelah deteksi estrus pertama diketahui. Pada kenyataannya kita tidak tahu riil waktu kapan estrus dimulai, tetapi rata-rata betina terdeteksi estrus dalam waktu ± 6 jam, jadi ketika di IB 12 jam setelah terdeteksi  perkawinan terjadi ± 18 jam setelah estrus. Dalam sebuah penelitian menyebutkan bahwa rata-rata konsepsi terjadi pada sapi perah yang estrus pagi hari dan di IB sore hari lebih besar (52%) daripada yang estrus sore hari dan di IB pagi harinya (47%). Berdasarkan adanyakenaikan progesteron, 13-19% sapi di IB pada saat tidak estrus. IB pada sapi bunting akan menyebabkan terjadinya abortus. Pada sapi perah bunting ± 10% menunjukkan tanda-tanda estrus. Untuk mencegah dan mengurangi terjadinya abortus pada sapi tersebut, semen sebaiknya diletakkan pada pertengahan cervix, hal ini juga memberikan peluang untuk terjadinya konsepsi jika ternyata sapi tersebut benar-benar estrus.

Mastitis Klinis dan Abortus
            Infeksi glandula mamaria merupakan predisposisi hilangnya kesempatan bunting akibat siklus luteal normal yang tergangggu. Sapi dengan kasus mastitis pada 45 hari pertama postpartus memiliki nilai 2,7 kali lebih besar terjadi abortus dibanding yang tidak menderita mastitis.Hasil dari sebuah penelitian menunjukkan mekanisme mastitis yang berhubungan dengan kebuntingan adalah karena adanya sekresi PGF2α. Faktanya adalah; 1. Kuartir percobaan yang mengandung mastitis coliform memiliki konsentrasi PGF2α yang lebih besar daripada kuartir kontrol, 2. Infusi endotoxin intravena meningkatkan konsentrasi prostaglandin dalam plasma darah, thromboxane B2 dan kortisol, dimana konsentrasi progesteron menurun (Stevenson, J.S, 2001)

Distokia
            Kesulitan beranak pada sapi perah yang paling umum disebabkan oleh abnormalitas presentasi fetus. Abnormalitas presentasi tersebut misalnya kaki terlipat kedalam, kepala terpuntir kekanan atau kekiri, keatas atau kebawah dan lain-lain. Pada kondisi seperti ini sebaiknya dibantu oleh dokter hewan untuk mengembalikan posisi presentasi fetus ke posisi normal, jika hal tersebut tidak dimungkinkan dapat dibantu dengan operasi sesar atau melakukan pemotongan fetus untuk tujuan menyelamatkan induknya. Distokia juga dapat disebabkan karena fetus yang terlalu besar sebagai akibat dari fetal monster, induk betina ras kecil di IB dengan pejantan ras besar, atau bunting yang panjang (Bath et al., 1985).
            Kasus distokia pada umumnya terjadi pada sapi-sapi dara atau pertama kali bunting. Pada umumnya untuk mencegah distokia peternak mengawinkan sapi dara mereka dengan pejantan ras kecil terlebih dahulu. Akibat dari kasus distokia biasanya diikuti dengan prolapsus uteri maupun vagina. Prolapsus ini dapat direposisi kembali oleh dokter hewan dan siklus reproduksi dapat kembali normal. Kenyataan yang terjadi dipeternakan adalah jika sapi sudah pernah mengalami distokia kemudian terjadi prolapsus biasanya akan berulang pada pada kebuntingan berikutnya, maka sering diputuskan untuk mengeluarkan atau culling terhadap sapi-sapi tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Bath, D.L., Dickinson, F.N., Tucker, H.A., Appleman, R.D. 1985. Dairy Cattle: Principles, Practices, Problems, Profits. 3rd ed. Lea & Febiger Philadelphia.
Benson, G.J. and Rollin, B.E. 2004. The Well-Being of Farm Animals Challenges and Solutions. Blackwell Publishing.
Dillon, P., Snijders, S., Buckley, F., Harris, B., O’Connor, P. and Mee, J.F. 2003. Acomparison of different dairy cow breeds on seassonal grass-based system of milk production 2. Reproduction and survival. Livestock Production Science 83 (2003) 35-42.
Diggins, R.V. and Bundy, C.E. 1954. Dairy Production. 2nd Ed. Prentice-Hall, Inc. Englewood Cliffs, N.J.
Enevoldsen, C., Hindhede, J. And Kristensen, T. 1996. Dairy Herd Management Types Assessed from Indicators of Health, reproduction, Replacement, and Milk Production. J. Dairy Sci. 79:1221-1236.
Putro, P.P. 2009. Manajemen Kesehatan dan Reproduksi Sapi Perah. Hand Out Kuliah. Bagian Reproduksi dan Obstetri FKH UGM
Schefers, J.M., Weigel, K.A., Rawson, C.L., Zwald, N.R. and Cook, N.B. 2010. Management practices associated with conception rate and service rate of lactating Holstein cows in large, commercial dairy herds. J.Dairy Sci. 93: 1459-1467.
Stevenson, J.S.  2001. Reproductive Management of Dairy Cows in High Milk-Producing Herds. J. Dairy Sci. 84 (E. Suppl.):E128-E143.