Sunday, March 31, 2013

Bruselosis Pada Sapi



Bruselosis Pada Sapi

Bruselosis adalah penyakit hewan menular yang dikenal sebagai penyakit keluron menular. Sasaran utama penyakit ini adalah hampir semua hewan domestik, sapi, kambing, domba, babi, anjing dan dapat pula menyerang hewan-hewan lain seperti kuda atau manusia.  Bruselosis merupakan salah satu dari 12 jenis penyakit hewan menular strategis (Perdirjen No. 59 Th. 2007). Bruselosis oleh Office International Des Epizooties (OIE) telah dikategorikan dalam penyakit zoonosis yang disebabkan oleh genus Brucella sp.
Penyebab, Bruselosis yang menimbulkan masalah pada ternak terutama disebabkan oleh 3 spesies yaitu Brucella militensis yang menyerang kambing, Brucella abortus yang menyerang sapi dan Brucella suis yang menyerang babi dan sapi.
Gejala pada ternak, dapat menyebabkan  penurunan produksi susu, abortus, anak lahir lemah, penurunan berat badan, infertilitas dan kepincangan. Infeksinya bersifat laten, akan terus dilanjutkan oleh anak-anak yang dilahirkan induk terinfeksi.
Deteksi terhadap bruselosis utamanya adalah dengan deteksi serologis, karena secara klinis bruselosis tidak spesifik.
Penanganan, Masuknya ternak baru terinfeksi kedalam kandang atau daerah bebas bruselosis  merupakan ancaman penularan bagi ternak-ternak yang ada. Populasi paling terancam adalah populasi yang tidak divaksinasi. Lalulintas ternak masuk dan keluar daerah harus disertai surat kesehatan hewan dari daerah asal. Surat Kesehatan Hewan dilampiri hasil uji Laboratorium terhadap bruselosis. Penularan paling banyak terjadi melalui oral atau makan minum yang tercemar oleh cairan yang keluar dari uterus hewan yang terinfeksi, sehingga bagi induk yang melahirkan harus dipisahkan.
Brucellosis merupakan penyakit hewan menular strategis yang mendapat prioritas pengendalian dan/atau pemberantasan. Hal ini diatur dalam Surat Keputusan Direktur Jendral Peternakan No. 59/Kpts/PD610/05/2007 tentang Jenis-Jenis Penyakit Hewan Menular Yang Mendapat Prioritas Pengendalian Dan Atau Pemberantasannya. Secara nasional, kebijakan pengendalian brucellosis adalah dengan mengendalikan lalu lintas sapi dan melaksanakan vaksinasi di daerah tertular berat (prevalensi >2%). Metode pemberantasan penyakit pada ternak adalah dengan test and slaughter (uji dan potong untuk prevalensi <2%) reaktor positif sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 828/Kpts/OT.210/10/98 tentang Pedoman Pemberantasan Penyakit Hewan Keluron Menular (Brucellosis) pada ternak. Prevalensi didasarkan pada hasil uji serologi dan surveilans
Pencegahan dan Pengobatan
Bruselosis memiliki keistimewaan yaitu bersifat bakteri intraseluler yang cukup sulit untuk diobati dengan antibiotika. Antibiotika yang digunakan dapat merupakan kombinasi antara tetracyclin dan rifampin atau streptomicin selama 3-6 minggu, atau dengan oxitetracyclin selam 3 bulan. Kenyataan dilapangan menerapkan pengobatan pada ternak dalam jangka waktu cukup lama menjadi tidak ekonomis, sehingga pengobatan tidak direkomendasikan.
Tindakan pencegahan yang paling efektif adalah dengan vaksinasi. Beberapa vaksin yang tersedia dilapangan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Vaksin-vaksin tersebut diantaranya adalah  Strain 19 (S19),  45/20 bacterin dan RB51. Program vaksinasi dilakukan didaerah-daerah endemis yang tidak mungkin dilakukan test and slaughter. Vaksinasi dilakukan pada semua ternak termasuk ternak reaktor dengan tujuan meminimalisir latent carrier. Sasaran utama program vaksinasi adalah ternak betina dan anak-anak betina.